CAHAYANEGERI.COM — Di sepanjang jalan Mampang Prapatan yang mulai sepi saat malam merambat larut, ada satu nama yang selalu ditunggu namun tak pernah benar-benar dikenal.
Pak Haji Gocap, sosok misterius yang wujudnya tertutup kaca mobil gelap, melintas dengan lampu terang berjalan pelan.
Ia membagikan rezeki yang dulu bernilai besar, kini perlahan berubah jumlahnya.
Sebuah kebaikan yang penuh teka-teki, sekaligus pelan tentang makna hidup yang ternyata dipahami dengan bijak oleh seorang pemulung.
Malam menjelang dini hari, Jalan Mampang Prapatan Raya masih menyisakan sekelompok orang yang menatap ke arah jalan lengang.
Mereka menunggu sosok yang mereka sebut Pak Haji Gocap, seorang dermawan misterius yang kedatangannya tak selalu pasti, namun selalu dinanti.
BACA JUGA: Gempa 3,6 Magnitudo Di Jogja, Warga Berhamburan dan 20 Kereta Api Berhenti Luar Biasa!
BACA JUGA: Karhutla Di Kalimantan Semakin Parah, Komisi IV DPR RI: Segera Jadi Prioritas Nasional!
Tidak ada yang tahu pasti rupa atau siapa beliau sebenarnya. Yang mereka kenal hanyalah tanda kedatangannya: mobil berwarna putih atau hitam dengan lampu sangat terang, melintas pelan di sisi pinggir jalan.
Kaca jendelanya hanya dibuka sebagian, warnanya gelap, sehingga wajah dan wujudnya tak pernah terlihat jelas oleh siapa pun.
Menurut MR, seorang pengemudi ojek pangkalan yang sudah puluhan kali menerima pemberian itu, Pak Haji biasanya datang pada malam Senin atau Kamis, sekitar pukul 23.00 hingga lewat tengah malam.
Sudah lima tahun lamanya beliau melakukan hal ini secara terus-menerus, tanpa suara, tanpa nama, dan tanpa ingin dikenal.
Yang menarik, nilai rezeki yang dibagikan ternyata berubah seiring berjalannya waktu.
Dulu, seseorang bisa menerima hingga Rp300.000. Kini, karena semakin banyak orang yang menanti, pemberian itu menjadi Rp50.000 per orang.
Tak semua orang memilih berdiri dan menunggu. Di sudut lain, Bang Ambon yang sudah sembilan belas tahun hidup sebagai pemulung memiliki pandangan yang membuat siapa saja merenung.
Ia pernah sekali menerima pemberian itu secara tak terduga saat sedang berjalan membawa barang hasil kerjanya.
Namun ia tak pernah bermaksud menantinya lagi. Baginya, lima puluh ribu rupiah yang datangnya tak pasti tak cukup untuk menutup kebutuhan sewa rumah dan makan keluarga.
Lebih baik ia bekerja dengan keringat sendiri, hasilnya lebih terjamin, tubuh pun tetap sehat, dan tak perlu menggantungkan hidup kepada orang lain.
“Menunggu yang belum tentu datang untuk apa? Lebih baik capek sedikit, hasilnya milik sendiri dan hati tenang,” ucapnya tulus.
Di balik misteri Pak Haji Gocap yang penuh kebaikan, ternyata ada pelajaran berharga, rezeki yang paling dapat diandalkan adalah hasil dari tangan sendiri, dan kemandirian jauh lebih berharga daripada sekadar menanti pemberian yang sifatnya rahasia dan tak menentu.






