Nasional

Ini Penjelasan Dai Ahli Terkait Masih Terjadinya Gempa Susulan Di NTT!

×

Ini Penjelasan Dai Ahli Terkait Masih Terjadinya Gempa Susulan Di NTT!

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi kegiatan gempa bumi dan susulan di wilayah Flores Nusa Tenggara Timur
Aktivitas gempa susulan masih terus terjadi di Flores NTT pasca gempa utama magnitudo 7,7.

CAHAYANEGERI.COM – Gempa susulan masih terus terjadi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebenarnya apa yang menyebabkan gempa susulan masih mengguncang NTT?

Gempa susulan setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terus berlangsung hingga Sabtu, 22 Agustus 2026.

Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sebanyak 5.012 gempa susulan terjadi hingga pukul 05.00 WIB. Dari jumlah tersebut, gempa susulan terbesar memiliki magnitudo 6,2.

Melalui unggahan di akun Instagram resminya, @infobmkg, BMKG menyampaikan bahwa 31 gempa susulan tercatat memiliki magnitudo lebih dari 5.

Selain itu, sebanyak 124 gempa dirasakan oleh masyarakat, sementara gempa dengan kekuatan paling kecil tercatat bermagnitudo 1,1.

BACA JUGA: TNI AD Kirim Kapal Bantu Korban Gempa NTT, Angkut 70 Ton Logistik Lengkap Fasilitas RS!

BACA JUGA: Gempa 3,6 Magnitudo Di Jogja, Warga Berhamburan dan 20 Kereta Api Berhenti Luar Biasa!

Adanya aktivitas gempa susulan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai alasan gempa susulan masih terjadi setelah gempa utama.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa gempa susulan merupakan bagian dari proses alami bumi untuk menyesuaikan diri dan mencapai keseimbangan baru setelah gempa utama terjadi.

Gempa utama biasanya dipicu oleh energi yang menumpuk di sepanjang retakan batuan atau zona patahan.

Ketika tekanan tersebut melebihi kemampuan batuan untuk menahannya, batuan akan pecah dan mengalami pergeseran secara tiba-tiba.

Peristiwa inilah yang kemudian menimbulkan gempa utama dengan kekuatan besar.

Namun, setelah patahan mengalami pergeseran besar, kondisi di sekitarnya tidak serta-merta menjadi stabil.

Sebagian titik pada bidang patahan masih menyimpan tekanan atau tegangan. Sisa tekanan tersebut kemudian mendorong batuan di sekitar patahan untuk kembali bergerak secara bertahap.

“Gempa susulan pada hakikatnya adalah penyesuaian mekanis mikro saat batuan di sekitar bidang patahan tersebut bergeser perlahan untuk mencari posisi kestabilan baru,” jelas Daryono pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Proses inilah yang dapat berlangsung berulang kali dan menyebabkan gempa susulan muncul dalam jumlah cukup banyak. Nah fenomena itu secara ilmiah dapat dikenal melalui Hukum Omori-Utsu.

Hukum ini menerangkan bahwa frekuensi gempa susulan biasanya akan berkurang seiring berjalannya waktu.

Dengan demikian, gempa susulan cenderung paling sering terjadi pada beberapa jam atau hari pertama setelah gempa utama, lalu jumlahnya perlahan menurun dalam beberapa waktu berikutnya.

Meskipun frekuensinya semakin berkurang, bukan berarti seluruh gempa susulan memiliki kekuatan yang kecil. Satu atau dua gempa susulan masih dapat mencapai magnitudo yang cukup besar.

Kondisi ini berbahaya, terutama bagi bangunan yang telah mengalami kerusakan atau penurunan kekuatan struktur akibat gempa utama.

Gempa utama juga dapat mengubah distribusi tekanan di dalam kerak bumi.

Tekanan yang sebelumnya terkonsentrasi pada satu bagian patahan dapat berpindah ke batuan di sekitarnya.

Perubahan distribusi tekanan tersebut dikenal sebagai Coulomb stress change dan dapat memicu pergerakan baru pada segmen patahan tertentu.

Oleh karena itu, kemunculan gempa susulan tidak selalu menunjukkan bahwa tekanan di suatu wilayah terus bertambah.

Sebaliknya, rangkaian gempa tersebut merupakan salah satu mekanisme alami bumi untuk melepaskan sisa tekanan dan menata kembali kondisi batuan agar menjadi lebih stabil.

Daryono juga menjelaskan bahwa istilah foreshock, mainshock dan aftershock ditentukan berdasarkan urutan kejadian, lokasi, serta perbandingan magnitudo gempa dalam satu kelompok atau kluster patahan. Penamaan tersebut tidak selalu bersifat tetap karena dapat berubah setelah gempa lain terjadi.

Sebagai contoh, gempa yang pada awalnya dianggap sebagai gempa utama dapat dikategorikan sebagai foreshock apabila beberapa waktu kemudian terjadi gempa yang lebih besar di wilayah patahan yang sama.

“Penentuan status ini selalu bersifat retrospektif atau hanya bisa dipastikan setelah peristiwa berlalu,” ungkap Daryono.

Karena itu, para ahli biasanya memerlukan data dari beberapa kejadian gempa sebelum menentukan klasifikasi secara lebih akurat.

Untuk memastikan suatu gempa termasuk gempa susulan, seismolog akan memeriksa berbagai parameter.

Beberapa di antaranya adalah lokasi gempa yang masih berada di sekitar zona patahan gempa utama, waktu kemunculannya serta pola frekuensi gempa yang secara bertahap mengalami penurunan.

Selain Hukum Omori-Utsu, terdapat pula Hukum Båth yang menjelaskan hubungan antara gempa utama dan gempa susulan terbesar.

Berdasarkan hukum tersebut, gempa susulan terbesar biasanya memiliki magnitudo sekitar 1,2 tingkat lebih rendah daripada gempa utama.

Daryono menjelaskan jika gempa susulan merupakan hal yang umum setelah gempa kuat dan menjadi bagian dari proses penyesuaian kerak bumi.

Aktivitas tersebut dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga berbulan-bulan, tergantung pada kondisi patahan dan tingkat tekanan yang tersisa di dalam batuan.

“Rangkaian gempa susulan adalah bagian alami dari proses pemulihan bumi,” ungkapnya. Masyarakat di wilayah terdampak tetap perlu meningkatkan kewaspadaan, meskipun jumlah gempa susulan mulai berkurang. Gempa dengan kekuatan cukup besar masih mungkin terjadi dan dapat memperparah kerusakan pada bangunan yang sebelumnya telah melemah akibat gempa utama. *

Penulis: Riska Ayu Kurniati