CAHAYANEGERI.COM – Pada Jumat, 14 Agustus 2026 telah digelar Sidang Tahunan MPR 2026. Ada banyak tamu penting yang diundang dalam agenda tersebut, namun salah satu yang menarik perhatian adalah hadirnya 8 tamu istimewa Presiden Prabowo Subianto dalam sidang tersebut.
Presiden Prabowo Subianto tidak hanya menyampaikan berbagai hasil kerja pemerintah dalam pidatonya. Ia juga menghadirkan cerita tentang masyarakat dari berbagai daerah yang merasakan manfaat program pemerintah secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Cerita tersebut disampaikan dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR serta DPD untuk memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia. Acara itu berlangsung di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Dalam pidatonya, Prabowo menyebutkan delapan orang yang menjadi contoh penerima manfaat dari sejumlah program pemerintah. Program tersebut mencakup bidang pangan, pendidikan, perlindungan sosial hingga penyediaan rumah layak huni.
BACA JUGA: Sidang Tahunan MPR 2026: Presiden Prabowo Undang Tamu Khusus Untuk Agenda Ini!
BACA JUGA: Resmikan 3.395 Jembatan TNI-Polri dan 3.000 Sumber Air Bersih, Presiden Prabowo Ungkap Rasa Bangga!
Berikut adalah profil singkat delapan tamu khusus yang dihadirkan dalam Sidang MPR 2026:
1. Joko Puro
Joko Puro adalah Ketua Kelompok Tani dari Desa Purwosari, Ngawi, Jawa Timur. Ia telah menjalani pekerjaan sebagai petani selama kurang lebih 20 tahun.
Dalam pidatonya, Prabowo menyampaikan bahwa kebijakan penurunan harga pupuk sebesar 20 persen membantu mengurangi biaya produksi yang harus dikeluarkan Joko. Pemerintah juga memberikan penghargaan atas peran petani, penyuluh pertanian, pemerintah daerah, TNI, Polri, BUMN pangan, koperasi serta berbagai pihak lain yang mendukung sektor pertanian.
2. Kristina Beno
Kristina Beno merupakan anak seorang petani yang berasal dari Merauke, Papua Selatan. Saat ini, ia duduk di kelas 6 sekolah dasar dan termasuk salah satu penerima program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Prabowo menjelaskan bahwa makanan yang diterima Kristina dan jutaan anak lainnya bukan hanya berfungsi untuk menghilangkan rasa lapar. Asupan tersebut juga membantu menyediakan energi untuk belajar serta protein yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tubuh, otak, tulang dan otot.
3. Muhammad Risky Pratama
Muhammad Risky Pratama disebut saat Prabowo menjelaskan pelaksanaan program Sekolah Rakyat. Risky yang berusia 12 tahun merupakan siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama atau SRMP 2 di Medan.
Sebelum bersekolah di tempat tersebut, Risky pernah mengayuh sepeda sejauh puluhan kilometer sambil membawa sekitar 30 kilogram ikan untuk dijual. Ia juga sempat berhenti sekolah dan mengalami kesulitan dalam membaca serta berhitung.
Melalui program Sekolah Rakyat, Risky memperoleh kesempatan untuk kembali mendapatkan pendidikan. Ia kini dapat belajar di lingkungan sekolah dan mengembangkan kemampuan akademiknya.
4. Citra Nur Ramadhani
Citra Nur Ramadhani berasal dari Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan. Ketika duduk di kelas IV sekolah dasar, ia hampir tidak dapat melanjutkan pendidikan karena harus membantu ibunya berjualan kacang.
Ayah Citra telah meninggal dunia, sementara ibunya merupakan penyandang disabilitas. Kondisi tersebut membuat Citra harus ikut membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.
Program Sekolah Rakyat kemudian membuka kesempatan bagi Citra untuk kembali melanjutkan pendidikan. Selain aktif belajar, ia juga berhasil meraih prestasi sebagai juara karate tingkat kabupaten.
5. Susanah
Susanah berasal dari Kabupaten Bogor dan bekerja sebagai buruh harian dengan tugas mengupas bawang. Pekerjaan tersebut menjadi salah satu sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Susanah disebut menerima manfaat dari Program Keluarga Harapan atau PKH serta bantuan sembako. Bantuan tersebut turut mendukung kebutuhan rumah tangga dan membantu menjaga keberlangsungan pendidikan anak-anaknya.
6. Margarelitha Rohi
Margarelitha Rohi merupakan warga asal Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia disebut tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan formal.
Dalam kesehariannya, Margarelitha berjualan sambil merawat salah satu anggota keluarganya yang telah berusia 80 tahun. Keluarganya kemudian menerima bantuan sosial melalui program ATENSI.
Bantuan tersebut berupa kebutuhan pokok, seperti beras dan minyak. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban keluarga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
7. Thelma Humena
Thelma Humena bersama keluarganya merupakan penerima manfaat Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya atau BSPS. Ia berasal dari Manado, Sulawesi Utara.
Sebelum menerima bantuan, Thelma dan keluarganya tinggal di rumah dengan kondisi yang kurang layak. Fondasi rumah tersebut rapuh, sedangkan bagian dinding, lantai dan atap mengalami kerusakan.
Melalui program BSPS, keluarga Thelma mendapatkan dukungan untuk memperbaiki tempat tinggal mereka agar menjadi lebih aman dan nyaman untuk dihuni.
8. Andre Kawaru
Andre Kawaru berasal dari Samarinda dan bekerja sebagai pedagang di pasar malam. Sebelumnya, ia bersama keluarganya masih tinggal di rumah kontrakan.
Setelah memperoleh KPR Subsidi FLPP atau Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan, Andre berhasil memiliki rumah sendiri. Program tersebut membantu masyarakat berpenghasilan rendah mendapatkan hunian dengan pembiayaan yang lebih terjangkau. *






