CAHAYANEGERI.COM – Bantuan untuk para korban bencana gempa di Nusa Tenggara Timur terus berdatangan dari berbagai pihak.
Salah satu pihak yang memberikan bantuan gempa di NTT adalah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).
Pada Rabu, 19 Agustus 2026, TNI AD mengirimkan Kapal ADRI-XCII BM untuk membantu korban gempa berkekuatan 7,7 magnitudo yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus.
Kapal ini membawa berbagai bantuan penting seperti logistik, kendaraan operasional, fasilitas kesehatan serta tim medis untuk mendukung kebutuhan warga yang terdampak bencana.
Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, menjelaskan bahwa pengiriman bantuan ini dilakukan setelah pihaknya terus memantau kondisi para korban dari waktu ke waktu.
BACA JUGA: Gempa 3,6 Magnitudo Di Jogja, Warga Berhamburan dan 20 Kereta Api Berhenti Luar Biasa!
BACA JUGA: Berpotensi Gempa Susulan NTT Hingga 3 Minggu Kedepan
“Jadi kami dari Angkatan Darat sebetulnya dari jam ke jam terus memantau perkembangan di sana,” jelas Maruli saat melepas keberangkatan kapal pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Menurut Maruli, bantuan yang dikirim tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan darurat, tetapi juga untuk mendukung penanganan jangka panjang selama beberapa bulan ke depan.
Ia menekankan bahwa proses pemulihan pascabencana membutuhkan waktu yang tidak sebentar, sehingga bantuan harus diberikan secara berkelanjutan.
“Dalam menghadapi bencana ini kita selalu harus punya napas panjang. Kalau cuma one hit kirim selesai, penderitaan saudara-saudara kita akan terus berlanjut dalam beberapa bulan ke depan,” jelasnya.
Kapal tersebut mengangkut sekitar 70 ton bantuan, yang mencakup bahan makanan, perlengkapan dan bahan bakar minyak (BBM).
Rinciannya meliputi 32,5 ton beras, 500 kilogram gula, 4.000 botol minyak goreng ukuran 1 liter, 1.140 dus mi instan, 1.997 dus susu bayi serta 672 dus bubur bayi.
Selain itu, dikirimkan pula 330 dus pembalut wanita, 710 dus pampers, 1.000 dus air minum kemasan, 5.000 paket ransum tempur, 28 karung pakaian layak pakai dan 12.000 liter BBM jenis pertalite, Pertamina Dex dan biosolar.
Untuk mendukung operasional di lapangan, kapal juga membawa 2 unit ambulans dan 5 unit truk berkapasitas 2,5 ton.
Bantuan lainnya mencakup 100 tandon air berkapasitas 1.100 liter, 13 set genset 2,5 KVA, 30 set tenda serbaguna serta 900 set veldbed atau tempat tidur lapangan.
Kapal ADRI 92 juga dilengkapi fasilitas rumah sakit kapal yang siap beroperasi selama 20 hari, dengan 2 dokter dan 6 perawat yang bertugas.
Fasilitas ini memiliki 8 tempat tidur untuk pasien rawat inap dan 66 tempat tidur untuk pelayanan rawat jalan, lengkap dengan peralatan medis dan obat-obatan.
Selain tim medis di kapal, TNI AD juga telah mengirim dokter dan petugas kesehatan dari rumah sakit Kodam ke lokasi bencana.
Secara total, sekitar 2.253 personel TNI AD dari Bali dan Kupang telah dikerahkan untuk membantu penanganan bencana di NTT.
Jumlah ini belum termasuk personel dari TNI Angkatan Udara dan Angkatan Laut.
Secara keseluruhan, diperkirakan ada sekitar 5.000 personel TNI yang berada di wilayah terdampak.
Maruli memastikan bahwa distribusi bantuan akan diupayakan menjangkau wilayah-wilayah yang sulit diakses.
Salah satu strateginya adalah mengirimkan lima truk melalui kapal untuk membantu mobilitas logistik di lapangan.
Ia juga mengatakan bahwa TNI AD terus mengevaluasi kebutuhan alat berat, namun berdasarkan informasi sementara dari lapangan, tambahan alat berat belum diperlukan karena peralatan yang ada dinilai cukup.
Selain itu, kebutuhan air bersih juga menjadi perhatian utama.
Pihaknya akan mengevaluasi lokasi-lokasi yang memungkinkan untuk dilakukan pengeboran air, sehingga sumber air tersebut dapat dimanfaatkan warga secara berkelanjutan.
Maruli juga meminta masyarakat untuk segera melaporkan posisi atau lokasi mereka jika ada wilayah yang belum terjangkau bantuan, agar dapat segera ditindaklanjuti.
Mengenai tempat tinggal para pengungsi, sebagian warga terdampak diketahui memilih menetap sementara di rumah kerabat atau saudara.
Maruli menilai keputusan tersebut turut dipengaruhi oleh kuatnya solidaritas masyarakat Flores yang telah beberapa kali menghadapi bencana. *






